Beethoven dan Tepuk Tangan yang Tak Terdengar
Simfoni No. 9 usai dan gedung bergemuruh, tetapi sang komponis tidak mendengarnya. Seorang penyanyi lalu memutar tubuhnya ke arah penonton.
Simfoni No. 9 usai dan gedung bergemuruh, tetapi sang komponis tidak mendengarnya. Seorang penyanyi lalu memutar tubuhnya ke arah penonton.
Sungainya kosong karena ditubanya sendiri, sedangkan sungai tetangganya tetap penuh. Maka Bujang Beji memanggul puncak bukit untuk menutupnya.
Tali jemuran itu kosong, dan tetangga yang gemar meminjam sudah menunggu di balik pagar. Hoca pun masuk sebentar untuk bertanya kepada istrinya.
Dulu bulu gagak berwarna pelangi dan suaranya merdu. Ia kehilangan keduanya demi membawa api untuk menyelamatkan sahabat-sahabatnya dari salju.
Tukang kayu itu membisu sepanjang jalan pulang. Di depan pintu rumahnya, ia berhenti sebentar di dekat sebatang pohon kecil.
Anansi terus menyuruh tamunya mencuci tangan agar bisa menghabiskan makanan sendiri. Kura-kura membalas dengan cara yang elegan.
Sultan Melaka meminang puteri di puncak gunung. Jawabannya: jambatan emas, tujuh dulang hati nyamuk, dan semangkuk darah putera Sultan sendiri.
Tiga Jumat berturut-turut Hoca naik mimbar dengan satu pertanyaan yang sama. Jemaah menyusun rencana agar ia tak bisa mengelak lagi.
Setiap malam kakak dan adik diam-diam memindahkan karung padi ke lumbung saudaranya. Anehnya, karung mereka tak pernah berkurang.
Dalam perjalanan menuju pengantinnya, seorang putri dipaksa bertukar tempat dengan pelayannya dan bersumpah untuk diam. Hanya kuda ajaibnya, Falada, yang menyaksikan semuanya.