Menulis di Pasir, Memahat di Batu
Ditampar sahabatnya, ia menulis di pasir. Diselamatkan sahabat yang sama, ia memahat di batu. Mengapa berbeda?
Ditampar sahabatnya, ia menulis di pasir. Diselamatkan sahabat yang sama, ia memahat di batu. Mengapa berbeda?
Naskah yang ia sembunyikan di dalam jasnya hilang di Auschwitz. Keinginan menulisnya kembali ikut membuatnya bertahan.
Seekor serigala meneror kota Gubbio dan senjata tak mempan. Seorang biarawan miskin keluar menemuinya, membawa sebuah tawaran.
Setiap pagi sepatu-sepatu indah sudah jadi di meja tukang sepatu yang miskin. Suatu malam ia dan istrinya berjaga untuk melihat siapa penolongnya.
Kehilangan ekor membuat seekor rubah sangat malu. Ia lalu mengumpulkan seluruh kaumnya dan menyampaikan sebuah usul yang terdengar sangat masuk akal.
Seekor beo dalam sangkar emas menitipkan pesan untuk kerabatnya di India. Jawaban yang ia terima mengajarinya cara menjadi bebas.
Dewa Matahari mengutus dua anaknya dari Danau Titicaca dengan sebatang tongkat emas dan satu pesan: dirikan kota di tempat tongkat itu tenggelam…
Ia menyembunyikan selendang seorang bidadari dan menikahinya. Bertahun-tahun bahagia, sampai sebuah tutup periuk dibuka dan sebuah rahasia ditemukan di dasar lumbung.
Seorang kuli mengeluhkan nasibnya di depan rumah orang kaya. Pemilik rumah mengundangnya masuk untuk mendengar harga yang telah ia bayar.
Ryokan diminta menasihati keponakannya yang boros. Semalaman ia tak berkata apa-apa. Pagi harinya ia hanya minta tolong diikatkan tali sandal.